Banyak keresahan yang
dialami jomblowan dan jomblowati di muka bumi ini. Tentu, mendapatkan pasangan
menjadi permasalahannya. Biasanya sih, para jomblo suka iri kalau ngelihat
kawan yang nenteng pacar kemana-mana. Apalagi bermesraan di hadapan mereka. Sakitnya
itu di sini, di gigi.
Dalam keseharian, para
jomblo juga tidak luput dengan tekanan batin. Kalau jomblo yang punya banyak
aktivitas, kesendiriannya teralihkan dengan banyaknya kesibukan. Nah, yang jadi
masalah adalah jomblo yang minim aktivitas. Kerjaannya cuma ngitungin jumlah
mantan kawannya. Mengenaskan, mblo! Hampa banget hidupnya.
Oleh karena itu,
diperlukan sebuah terobosan penting untuk kesejahteraan para manusia jomblo.
Generasi jomblo sekarang terlalu banyak yang galau, kurang bahagia. Apalagi
pola pikirnya sudah terkontaminasi oleh drama-drama Korea. Galau sedikit mewek.
Gagal sekali langsung enggak mau makan. Ekstrem banget!
Aku adalah manusia
berkelamin laki-laki, dan sekarang masih menjabat sebagai jomblowan. Tidak usah
tahu berapa lama aku menjomblo. Yang jelas kalau seandainya di Indonesia ada
partai khusus jomblo, pasti aku adalah kandidat utama pemimpinnya.
Pedihnya siksaan di
malam minggu sudah banyak aku dapatkan. Do’a penurun hujan sudah hafal semua.
Aku juga sudah terlalu mainstream dengan
istilah obat nyamuk. Janjian nongkrong bareng kawan, sampai di tempat nongkrong
eh…, ternyata mereka bawa pasangan masing-masing. Rasanya benar-benar sakit
hati berada di antara kawan yang sedang pacaran. Tidak hanya berasa jadi obat
nyamuk, tapi sudah seperti satpam. Menjaga mereka agar nyaman bermesraaan.
Tanpa mereka sadari bahwa hati ini sedang menangis. Menangis menjerit-jerit,
tapi tidak terdengar. Mau apa-apa sudah tidak nyaman semua. Bisanya cuma diam
meratapi nasib. Mencari pengalihan pandangan juga percuma. Di sekeliling cuma
ada orang-orang pacaran, malah nambah kesengsaraan. Benar-benar sendirian, dan tidak
dianggap sama sekali. Seperti makhlus halus, ada tapi tidak kelihatan.
Aku ini anak kos. Anak
kos yang jomblo. Suka dongkol kalau ngelihat tetangga kamar yang pacarnya suka
nganterin makanan. Enak bangeeet…, uang saku bisa irit, dan enggak repot keluar
cari makan. Dalam hati aku sempat terpikir, kok, mau-maunya jadi petugas delivery
begitu. Lalu, setelah aku pikir-pikir lagi, ternyata kesalahannya ada pada
diriku sendiri. Mau bagaimana lagi, sedongkol-dongkolnya hati ini, sebenarnya itu
karena aku yang iri. Nasib yang jomblo, salah sendiri kenapa enggak punya pacar
(ngenes! krik…krik…krik…)
“Kapan bisa kayak
begitu, mblo?” Sudah terlalu mainstream
cari makan sendiri. Giliran ada yang nemenin eh…, laki-laki juga. Sampai di
warung makan eh…, ketemunya sama pasangan kekasih yang sedang makan bareng.
Hadeeewww…, semesta berasa tidak mendukung kaum jomblo. Di mana pun berada,
yang ada saki hati mulu.
Aku di kos sekamar dua
orang. Kebetulan kawan sekamarku sudah punya pacar. Kalau kejombloanku sih tidak
bisa disebut kebetulan, tapi garis ironi.
Setiap malam tiba,
kawanku sering nelpon pacarnya, dan itu membuat kupingku menjadi panas. Di
telpon, dia sering bilang sayang, gemes, kangen, rindu, padahal belum lama
mereka tadi ketemu, ah…, kata-kata itu membuatku tidak bisa tidur. Apalagi
suaranya di loud-speakear pula. Oh,
betapa dia telah mengganggu kejiwaanku, tapi mau bagaimana lagi, beginilah nasib
jomblo.
Entahlah, kenapa pacar
tak kunjung aku dapatkan. Usaha sudah aku lakuin semua. Minta dicomblangin,
kirim sms nyasar, kenalan lewat medsos, godain cewek di alun-alun kota, dikejar-kejar
bencong, belum berhasil juga.
Saking fokusnya dalam
mencari pasangan, aku sampai puyeng sendiri menjawab pertanyaan dari salah satu
kawanku. Dia bertanya begini, “Menurutmu, cinta itu apa?” Jujur saja, aku
bingung menjawabnya. Untuk laki-laki jomblo sepertiku ini cinta menjadi hal
yang jarang terasa. Betapa malangnya nasibku. Akhirnya, aku jawab saja, “Cinta
adalah sesuatu yang tak ternilai harganya.” Terus kawanku bertanya lagi,
“Kenapa begitu?” Aku jawab, “Ya iyalah, aku mencari pacar saja susahnya minta
ampun. Jadi, bagiku mendapat pacar adalah suatu kebahagiaan yang sangat mahal.
Kesengsaraan yang telah aku alami selama menjomblo terbayar lunas.”
Mungkin…, sabar adalah
kunci dari semua ini. Kalau kita benar-benar berusaha, tidak mungkin Tuhan
membiarkan kita, mblo. Sama seperti saat aku mendapat undangan dari kawan yang
akan menikah. Rasanya hati ini seperti dicabik-cabik, dicincang halus, terus di
goreng garing. Tapi…, aku harus tetap kuat, sabar, dan tetap berusaha.
Berakit-rakit dahulu, bersenang-senang kemudian, bersakit-sakit dahulu, dapet
pacar kemudian.
Pengalaman pahit
menjomblo seperti beberapa cerita yang aku alami itu jangan dibawa galau,
dibawa asyik aja. Mungkin ada di antara kalian yang memiliki cerita yang lebih
tragis dari ceritaku itu. Jangan dilupain, disimpan rapi di otak, kalau perlu
ditulis, ntar kalau udah tua bisa diceritain ke anak-cucu. Biar mereka tahu
bagaimana nasib nenek moyangnya semasa muda.
Yapz…, paling penting
adalah tetap bahagia setiap hari, mblo. Kalau happy, hidup akan nikmat untuk
dijalani. Buat apa galau, Indonesia itu indah. Kalau mau galau, boleh-boleh
saja sih, tapi jangan lama-lama, cukup 5 menit saja. Perbanyak aktivitas, biar
enggak terkena gangguan jiwa. Kali aja dapet pasangan berkat banyaknya
aktivitas itu. Positif thinking juga
perlu. Udah jomblo, kok, pikirannya ngeres,
nah kan enggak enak jadinya.
Oke, mblo. Sekian
dariku. Tetap hidup, dan jangan bunuh diri! Bahagialah!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar