saat
dihadapkan pada sebuah kertas putih
aku
bingung, harus aku apakan kertas itu?
kalau
saja aku masih anak-anak
pasti
sudah aku lipat-lipat dan aku bentuk
menjadi
pesawat terbang, perahu, bunga,
katak,
topi, atau
aku
ambil krayon
lalu
aku corat-coret sesuka hatiku
tapi,
sekarang usiaku sudah dua puluhan tahun
urusan
melipat kertas menjadi
hal
yang tidak penting
kecuali
kertas yang berhubungan
dengan
uang atau tagihan
seharusnya
aku bisa menulis sesuatu
di
kertas putih itu
tapi
apa ya?
apa
aku harus menulis semua masalahku?
kebahagiaanku?
atau
apa?
bukankah
semua itu akan berlalu
belum
lagi tulisanku jelek
takutnya
banyak yang salah saat aku nulis
kan
sayang kalau kertas putih itu menjadi kotor
andai
saja aku tidak menemukan kertas putih itu
aku
tidak akan sebingung ini
tapi
entah mengapa kertas putih itu
selalu
ada setiap aku bertambah usia
bagaimana
kalau aku sobek?
bagaimana
kalau aku remas
dan
aku buang?
ah…,
bisa-bisa nanti aku menyesal
aduuuh…apa
yang harus aku lakukan dengan kertas putih itu?
krik…krik…kr
ik…krik…krik
krik…krik…kr
ik…krik…krik
krik…krik…kr
ik…krik…krik (bunyi
jangkrik)
ya
sudahlah
aku
simpan saja
kusimpan
di tempat yang bersih
biar
tetap putih
bla…bla…b
la…bla..
.bla…bla…bl
a…bla…bla
…bla…bla…
bla…bla…
setahun
kemudian
kertas
putih itu tetap putih
dan
aku juga menjadi putih
entah
kulitku, entah hidupku
tidak
ada warna lain
hanya
putih
(3
Mei 2015
di
rumah)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar