Ketika hujan turun, mudah bagiku untuk
mengulang memori. Aku memandangi hujan dari balik kaca jendela, entah mengapa
rintik hujan seperti menghipnotis. Aku terdiam, suara berisik hujan justru
membuat jiwaku tenang, dan menggiringku mengingat sesuatu. Sesuatu yang berbau
hujan. Hujan yang saat itu membasahi tubuhku dan tubuhnya. Aku tak kuasa
membiarkannya dihajar hujan. Aku pun tak harus memaksakan diri untuk melawan
hujan. Aku menepi dan bersamanya. Aku berkata, “kamu tak apa-apa?” Ia menjawab
dengan senyuman. Aku masih belum tenang. Pada saat itu aku rindu bulan.
Menyentuh tangannya yang dingin, dan berkerut. Apa yang ada di pikiranmu? Aku menjaganya.
Berlalu lama, dan ia terlelap di pundakku. Maaf, aku membangunkanmu. Kita harus
segera pulang.
Ketika hujan turun, aku di sampingnya. Apa
yang membuatnya takut gelap, telah kubuatnya tenang. Ah, kenapa kamu malah
menangis? Dengarkan aku, aku akan bercerita untukmu. Cerita yang kuceritakan
padanya seperti lilin yang menyala di kegelapan. Ia pun antusias.
Ketika hujan turun, ia membenci suara. Ia
tutup telinga, memejamkan mata, dan berteriak seketika. Suara keras yang
membuatnya bergidik. Kemeriahan yang dimiliki hujan, tapi tidak untuknya. Dan,
aku tidak ke mana-mana, masih di sampingnya.
Ya, seperti itu salah satu bagiannya. Aku
berterima kasih. Hujan menjadi melodi yang pas untuk lamunanku. Kenangan
tetaplah kenangan. Ada untuk tongkat masa depan.
So…
Ketika hujan turun, apa yang kamu pikirkan?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar