Senin, 18 Mei 2015

Joba (Jomblo Bahagia)



Banyak keresahan yang dialami jomblowan dan jomblowati di muka bumi ini. Tentu, mendapatkan pasangan menjadi permasalahannya. Biasanya sih, para jomblo suka iri kalau ngelihat kawan yang nenteng pacar kemana-mana. Apalagi bermesraan di hadapan mereka. Sakitnya itu di sini, di gigi.
Dalam keseharian, para jomblo juga tidak luput dengan tekanan batin. Kalau jomblo yang punya banyak aktivitas, kesendiriannya teralihkan dengan banyaknya kesibukan. Nah, yang jadi masalah adalah jomblo yang minim aktivitas. Kerjaannya cuma ngitungin jumlah mantan kawannya. Mengenaskan, mblo! Hampa banget hidupnya.
Oleh karena itu, diperlukan sebuah terobosan penting untuk kesejahteraan para manusia jomblo. Generasi jomblo sekarang terlalu banyak yang galau, kurang bahagia. Apalagi pola pikirnya sudah terkontaminasi oleh drama-drama Korea. Galau sedikit mewek. Gagal sekali langsung enggak mau makan. Ekstrem banget!
Aku adalah manusia berkelamin laki-laki, dan sekarang masih menjabat sebagai jomblowan. Tidak usah tahu berapa lama aku menjomblo. Yang jelas kalau seandainya di Indonesia ada partai khusus jomblo, pasti aku adalah kandidat utama pemimpinnya.
Pedihnya siksaan di malam minggu sudah banyak aku dapatkan. Do’a penurun hujan sudah hafal semua. Aku juga sudah terlalu mainstream dengan istilah obat nyamuk. Janjian nongkrong bareng kawan, sampai di tempat nongkrong eh…, ternyata mereka bawa pasangan masing-masing. Rasanya benar-benar sakit hati berada di antara kawan yang sedang pacaran. Tidak hanya berasa jadi obat nyamuk, tapi sudah seperti satpam. Menjaga mereka agar nyaman bermesraaan. Tanpa mereka sadari bahwa hati ini sedang menangis. Menangis menjerit-jerit, tapi tidak terdengar. Mau apa-apa sudah tidak nyaman semua. Bisanya cuma diam meratapi nasib. Mencari pengalihan pandangan juga percuma. Di sekeliling cuma ada orang-orang pacaran, malah nambah kesengsaraan. Benar-benar sendirian, dan tidak dianggap sama sekali. Seperti makhlus halus, ada tapi tidak kelihatan.
Aku ini anak kos. Anak kos yang jomblo. Suka dongkol kalau ngelihat tetangga kamar yang pacarnya suka nganterin makanan. Enak bangeeet…, uang saku bisa irit, dan enggak repot keluar cari makan. Dalam hati aku sempat terpikir, kok, mau-maunya jadi petugas delivery begitu. Lalu, setelah aku pikir-pikir lagi, ternyata kesalahannya ada pada diriku sendiri. Mau bagaimana lagi, sedongkol-dongkolnya hati ini, sebenarnya itu karena aku yang iri. Nasib yang jomblo, salah sendiri kenapa enggak punya pacar (ngenes! krik…krik…krik…)
“Kapan bisa kayak begitu, mblo?” Sudah terlalu mainstream cari makan sendiri. Giliran ada yang nemenin eh…, laki-laki juga. Sampai di warung makan eh…, ketemunya sama pasangan kekasih yang sedang makan bareng. Hadeeewww…, semesta berasa tidak mendukung kaum jomblo. Di mana pun berada, yang ada saki hati mulu.
Aku di kos sekamar dua orang. Kebetulan kawan sekamarku sudah punya pacar. Kalau kejombloanku sih tidak bisa disebut kebetulan, tapi garis ironi.
Setiap malam tiba, kawanku sering nelpon pacarnya, dan itu membuat kupingku menjadi panas. Di telpon, dia sering bilang sayang, gemes, kangen, rindu, padahal belum lama mereka tadi ketemu, ah…, kata-kata itu membuatku tidak bisa tidur. Apalagi suaranya di loud-speakear pula. Oh, betapa dia telah mengganggu kejiwaanku, tapi mau bagaimana lagi, beginilah nasib jomblo.
Entahlah, kenapa pacar tak kunjung aku dapatkan. Usaha sudah aku lakuin semua. Minta dicomblangin, kirim sms nyasar, kenalan lewat medsos, godain cewek di alun-alun kota, dikejar-kejar bencong, belum berhasil juga.
Saking fokusnya dalam mencari pasangan, aku sampai puyeng sendiri menjawab pertanyaan dari salah satu kawanku. Dia bertanya begini, “Menurutmu, cinta itu apa?” Jujur saja, aku bingung menjawabnya. Untuk laki-laki jomblo sepertiku ini cinta menjadi hal yang jarang terasa. Betapa malangnya nasibku. Akhirnya, aku jawab saja, “Cinta adalah sesuatu yang tak ternilai harganya.” Terus kawanku bertanya lagi, “Kenapa begitu?” Aku jawab, “Ya iyalah, aku mencari pacar saja susahnya minta ampun. Jadi, bagiku mendapat pacar adalah suatu kebahagiaan yang sangat mahal. Kesengsaraan yang telah aku alami selama menjomblo terbayar lunas.”
Mungkin…, sabar adalah kunci dari semua ini. Kalau kita benar-benar berusaha, tidak mungkin Tuhan membiarkan kita, mblo. Sama seperti saat aku mendapat undangan dari kawan yang akan menikah. Rasanya hati ini seperti dicabik-cabik, dicincang halus, terus di goreng garing. Tapi…, aku harus tetap kuat, sabar, dan tetap berusaha. Berakit-rakit dahulu, bersenang-senang kemudian, bersakit-sakit dahulu, dapet pacar kemudian.
Pengalaman pahit menjomblo seperti beberapa cerita yang aku alami itu jangan dibawa galau, dibawa asyik aja. Mungkin ada di antara kalian yang memiliki cerita yang lebih tragis dari ceritaku itu. Jangan dilupain, disimpan rapi di otak, kalau perlu ditulis, ntar kalau udah tua bisa diceritain ke anak-cucu. Biar mereka tahu bagaimana nasib nenek moyangnya semasa muda.
Yapz…, paling penting adalah tetap bahagia setiap hari, mblo. Kalau happy, hidup akan nikmat untuk dijalani. Buat apa galau, Indonesia itu indah. Kalau mau galau, boleh-boleh saja sih, tapi jangan lama-lama, cukup 5 menit saja. Perbanyak aktivitas, biar enggak terkena gangguan jiwa. Kali aja dapet pasangan berkat banyaknya aktivitas itu. Positif thinking juga perlu. Udah jomblo, kok, pikirannya ngeres, nah kan enggak enak jadinya.
Oke, mblo. Sekian dariku. Tetap hidup, dan jangan bunuh diri! Bahagialah!

Minggu, 03 Mei 2015

Kertas Putih

saat dihadapkan pada sebuah kertas putih
aku bingung, harus aku apakan kertas itu?
kalau saja aku masih anak-anak
pasti sudah aku lipat-lipat dan aku bentuk
menjadi pesawat terbang, perahu, bunga,
katak, topi, atau
aku ambil krayon
lalu aku corat-coret sesuka hatiku
tapi, sekarang usiaku sudah dua puluhan tahun
urusan melipat kertas menjadi
hal yang tidak penting
kecuali kertas yang berhubungan
dengan uang atau tagihan
seharusnya aku bisa menulis sesuatu
di kertas putih itu
tapi apa ya?
apa aku harus menulis semua masalahku?
kebahagiaanku?
atau apa?
bukankah semua itu akan berlalu
belum lagi tulisanku jelek
takutnya banyak yang salah saat aku nulis
kan sayang kalau kertas putih itu menjadi kotor
andai saja aku tidak menemukan kertas putih itu
aku tidak akan sebingung ini
tapi entah mengapa kertas putih itu
selalu ada setiap aku bertambah usia
bagaimana kalau aku sobek?
bagaimana kalau aku remas
dan aku buang?
ah…, bisa-bisa nanti aku menyesal
aduuuh…apa yang harus aku lakukan dengan kertas putih itu?
krik…krik…kr
ik…krik…krik
krik…krik…kr
ik…krik…krik
krik…krik…kr
ik…krik…krik (bunyi jangkrik)
ya sudahlah
aku simpan saja
kusimpan di tempat yang bersih
biar tetap putih
bla…bla…b
la…bla..
.bla…bla…bl
a…bla…bla
…bla…bla…
bla…bla…
setahun kemudian
kertas putih itu tetap putih
dan aku juga menjadi putih
entah kulitku, entah hidupku
tidak ada warna lain
hanya putih



(3 Mei 2015
di rumah)

Minggu, 26 April 2015

Inget Mantan Pacar

Teringat mantan itu wajar. Biasanya, datangnya tiba-tiba. Saat ngelakuin sesuatu, ada-ada aja yang keinget. Pas mau makan, eh…keinget mantan yang biasanya makan bareng. Pas mau berangkat kuliah, eh…keinget mantan yang biasanya nganterin. Pas pergi jalan-jalan, eh…keinget mantan yang biasanya ngegandeng tangan. Pas ngobrol ama temen, eh…keinget mantan yang biasanya canda-tawa bareng. Dan, masih banyak lagi yang lainnya.
Kalau udah begitu biasanya senyum-senyum sendiri, ketawa sendiri, nyesel sendiri, marah sendiri, dan yang paling ekstreme nangis-nangis sendiri, hehe. Ujung-ujungnya kangen. Lalu ngambil handphone nyari nomernya dia, dicari-cari eh…ternyata lupa kalau dulu udah dihapus. Datanglah penyesalan, hehe. Ada yang kayak gitu?
Ada juga orang yang emang sengaja nginget mantan. Biasanya itu dilakuin ama yang masih jomblo. Contohnya: kalau pulang selalu nglewatin jalan yang dulu biasa dilewatin bareng ama mantan, ke Indomart beli es krim yang biasa disukai mantan, nada dering handphone disamain ama punya mantan, ndengerin musik kesukaan mantan, dan lain-lain. Biasalah namanya juga jomblo, kalo belum dapet pasangan ya kerjaannya nginget mantan, hehe.
Inget mantan pacar pasti inget barang pemberiannya juga. Kalian pasti punya berbagai macam barang pemberian mantan. Mungkin ada kaos, kalung, cincin, jam tangan, buku, HP, apalah-apalah banyak pasti. Kira-kira sampai sekarang masih tersimpan rapi atau udah ilang? Pasti banyak yang ilang…, yang masih disimpan rapi berarti masih sayang ama mantan atau kalau nggak ya eman-eman aja masih bisa dipake daripada dibuang, hehe. Kalau diberi mobil, pesawat, atau kereta api, gak bakalan diilangin ya, haha.
Inget mantan juga kadang ngebuat hati jadi gundah. Rasanya pengin ngajak balikan melulu. Alesannya karena si mantan semakin hari kok malah tambah ganteng, tambah cantik, tambah kaya, dan lain-lain, haha. Aku jadi inget perkataan dari bang Wira ‘sesuatu yang tumbuh kembali itu rasanya nggak akan lagi sama’. Setuju nggak? Aku setuju, tapi bukan berarti kalau udah balikan nggak bakalan mesra lagi. Pada kenyataannya banyak juga pasangan yang balikan terus nikah. Apa pun bisa terjadi karena cinta. Rasa yang nggak sama belum tentu akan menjadi buruk, justru malah bisa menjadi lebih indah. Balikan aja, asal bener dari hati.
Introspeksi diri juga menjadi lebih sering kita lakuin saat inget mantan. Kegagalan dalam berhubungan dapat memberikan pelajaran untuk kedewasaan. Kita akan semakin tahu apa yang harus kita lakuin saat menghadapi hal yang sama. Baik itu hal yang buruk maupun yang tidak buruk.
Oke! Setiap orang punya cara sendiri-sendiri untuk menyikapi keadaan saat inget mantan. Kenangan punya sendiri-sendiri. Yang lebih ngerti pasti juga diri sendiri. Orang lain mah apa atuh, hehe. Jadi, kalian lebih tahu apa yang harus dilakukan. Semua itu hanya cara pikir yang kubuat sempit aja. Aku yakin di luar sana banyak manusia hebat untuk soal perasaan.
Masa lalu nggak bakalan bisa dilupain kecuali terserang amnesia. Jadikan masa lalu sebagai pijakan untuk masa depan yang lebih baik. Bolehlah percaya dengan Pak Mario Teguh, tapi lebih percayalah dengan hatimu.

Minggu, 12 April 2015

Perbedaan antara Bidadari dan Dewi



Tokoh Bidadari dan Dewi selalu digambarkan sebagai wanita yang berparas cantik, bertubuh bagus, senyumnya meluluhkan hati, suaranya tidak membosankan telinga, harum, pokoknya memanjakan mata. Namun, tahukah kalian perbedaan antara Bidadari dan Dewi?

Aku yakin, diantara kalian sudah ada yang tahu jawabannya. Dan, pasti ada juga yang belum tahu. Nah… bagi yang belum tahu, sebentar lagi akan aku beritahu, dan yang sudah tahu boleh membandingkan jawabanmu dengan jawabanku.

Bidadari dan Dewi, jelas, sama-sama berjenis kelamin wanita. Mereka sama-sama tinggal di kahyangan. Bedanya, Bidadari adalah sebutan untuk wanita penghuni kahyangan yang masih perawan. Sedangkan, Dewi adalah sebutan untuk wanita penghuni kahyangan yang sudah kawin, sudah tidak perawan lagi.

Nah, itulah salah satu perbedaan antara Bidadari dan Dewi. Lainnya menyusul. Nunggu Pak Dalangnya beraksi lagi.

See you...