Kamis, 21 Januari 2016

Kopi Oh Kopi



Gw ini termasuk makhluk yang suka minum kopi. Dan sebagai pencinta kopi, gw merasa terganggu ama kasus yang sedang hangat saat ini (ciyeelah hangat, emangnya ketek) Yaitu kasus meninggalnya seorang gadis, eh? Salah! Kayaknya udah enggak gadis lagi ya? Kayaknya udah punya suami ya? Kayaknya sih begitu… (LOL) Wanita itu mati dikarenakan minum kopi. Yang katanya di dalam kopi itu ada racun. Kalo enggak salah namanya racun SIANIDA. Nama racunnya sih keren, tapi dampaknya tak sekeren namanya.

Nah, gara-gara berita itu gw jadi parno kalo minum kopi. Misal gw lagi nongkrong di warung, pas pesen kopi, selalu muncul pikiran kotor di otak gw, kayak begini nih, “Wah.., ini kopi aman gak ya? Jangan-jangan ini kopi ada racunnya. Jangan-jangan yang punya warung ngasih racun ke gw gara-gara sering ngutang. Ato jangan-jangan temen sebelah gw ni yang mau ngeracuni gw gara-gara gw pernah melorotin celananya. Ato jangan-jangan Selena Gomez marah karena udah gw putusin, dan nyuruh orang buat ngeracuni gw. Ato Jangan-jangan, jangan-jangan, jangan-jangan… TIDAAAK!!!” (mirip-mirip adegan sinetron apa gitu… Hahaa)

Terus, pelakunya belum ketangkep pula. Jangan-jangan pelakunya ada di sekitar gw. Jangan-jangan sasaran selanjutnya gw. Duh, gawat! (masih parno) Jangan-jangan pelakunya kamu! Iya kamu! Kamu yang sedang baca blog ini. Kamu mau ngeracuni aku ya? Silahkan, tapi racuni aku dengan cintamu ya…, eeeyaaa…, icikiwiiirrr… (berharap yang baca cewek, bukan cowok)

Hadeeew, gw jadi emosi gara-gara berita itu. Kenapa harus kopi? Kenapa kok gak di es teh aja, es dawet kah, es cendol gitu, susu anget, es susu, ato apalah yang lain. Kenapa kopi? Yang notabene adalah minuman kesukaanku. Harusnya jangan! (maksa banget)

Oh kopi.., namamu tercoreng gara-gara berita ini, janganlah kau bersedih, kau tetap minuman yang special di hatiku, meski pahit rasamu tapi manis di bibirku. Oh kopi, tetaplah abadi sampai Aura Kasih mau bersamaku…
 
:-D

Senin, 18 Januari 2016

Ketika Hujan Turun

Ketika hujan turun, mudah bagiku untuk mengulang memori. Aku memandangi hujan dari balik kaca jendela, entah mengapa rintik hujan seperti menghipnotis. Aku terdiam, suara berisik hujan justru membuat jiwaku tenang, dan menggiringku mengingat sesuatu. Sesuatu yang berbau hujan. Hujan yang saat itu membasahi tubuhku dan tubuhnya. Aku tak kuasa membiarkannya dihajar hujan. Aku pun tak harus memaksakan diri untuk melawan hujan. Aku menepi dan bersamanya. Aku berkata, “kamu tak apa-apa?” Ia menjawab dengan senyuman. Aku masih belum tenang. Pada saat itu aku rindu bulan. Menyentuh tangannya yang dingin, dan berkerut. Apa yang ada di pikiranmu? Aku menjaganya. Berlalu lama, dan ia terlelap di pundakku. Maaf, aku membangunkanmu. Kita harus segera pulang.

Ketika hujan turun, aku di sampingnya. Apa yang membuatnya takut gelap, telah kubuatnya tenang. Ah, kenapa kamu malah menangis? Dengarkan aku, aku akan bercerita untukmu. Cerita yang kuceritakan padanya seperti lilin yang menyala di kegelapan. Ia pun antusias.

Ketika hujan turun, ia membenci suara. Ia tutup telinga, memejamkan mata, dan berteriak seketika. Suara keras yang membuatnya bergidik. Kemeriahan yang dimiliki hujan, tapi tidak untuknya. Dan, aku tidak ke mana-mana, masih di sampingnya.

Ya, seperti itu salah satu bagiannya. Aku berterima kasih. Hujan menjadi melodi yang pas untuk lamunanku. Kenangan tetaplah kenangan. Ada untuk tongkat masa depan.

So
Ketika hujan turun, apa yang kamu pikirkan?