Kamis, 05 Maret 2015

Aku dan Buku



Aku suka membaca sejak duduk di bangku kelas 4 SD. Waktu itu buku yang pertama kali aku baca sampai selesai adalah buku Ensiklopedi tentang hewan, tumbuhan, dan tempat bersejarah di dunia. Aku meminjam buku itu dari temanku satu kelas. Berkat buku tersebut, aku bisa menjadi tahu tempat-tempat bersejarah di dunia, aku menjadi tahu hewan apa saja yang ada di Indonesia, aku menjadi tahu tumbuhan-tumbuhan langka. Bukunya lumayan tebal. Aku tertarik membaca buku tersebut karena penjelasannya disertai dengan gambar, bahkan lebih banyak gambarnya ketimbang teorinya. Mungkin kalau tidak ada gambarnya aku tidak akan mau membaca. Tidak bisa dipungkiri gambar adalah salah satu sebab aku mau membaca, dan pengetahuan yang aku dapat dari membaca aku anggap sebagai bonus karena aku suka dengan gambarnya. Kurang lebih seperti itu apa yang dapat aku tangkap dari pemikiranku waktu masih kecil. Wajar, karena yang namanya anak-anak pasti suka dengan buku yang bergambar.
Aku suka membaca juga berkat orang tua. Dulu orang tuaku berinisiatif untuk berlangganan majalah Bobo agar anaknya gemar membaca. Dan ternyata berhasil, setiap minggu aku selalu tidak sabar untuk mendapatkan majalah Bobo itu. Majalah Bobo penuh dengan cerita dongeng bergambar yang selalu dapat membuatku larut untuk berkhayal, tentunya khayalan khas anak-anak. Kalau waktu itu orang tuaku tidak jadi berlangganan majalah Bobo, mungkin aku tidak akan punya hobi membaca.
Masuk SMP kebiasaanku membaca buku bergambar masih belum hilang. Setiap ada jam kosong atau jam istirahat tidak jarang aku gunakan untuk membaca di perpustakaan. Aku selalu menuju rak buku komik. Banyak komik yang sudah aku baca, dari mulai komik Doraemon, Sinchan, Naruto, Detektif Conan, dan masih banyak yang lain. Ada juga buku komik yang membuatku terheran-heran, karena waktu itu aku pikir yang namanya buku komik pasti berisi tentang cerita imajinasi untuk anak-anak. Pemikiranku itu keliru, ternyata ada juga buku komik yang menceritakan tentang tokoh-tokoh dunia. Waktu itu aku membaca komik tentang Abraham Lincoln, Thomas Alfa Eddison, dan Albert Einstein. Komik tersebut sangat bermanfaat, aku menjadi mengerti siapa mereka dan apa pengaruh mereka terhadap dunia.
Ada pengalaman yang tidak bisa aku lupakan waktu SMP tentang membaca. Kejadiannya saat kelas IX, setiap kali jam istirahat tiba aku dan teman-temanku yang laki-laki selalu ngobrol bersama-sama di depan kelas. Tema yang paling sering diobrolkan adalah tentang sepak bola, sedangkan aku waktu itu tidak paham sama sekali dengan sepak bola. Klub sepak bola di Indonesia saja aku tidak paham apalagi klub dari luar Indonesia. Aku hanya bisa diam ketika teman-temanku ngobrol tentang sepak bola. Merasa jengkel karena pengetahuanku tentang sepak bola sangat tidak ada, akhirnya aku membeli majalah sepak bola untuk aku pelajari. Tidak tanggung-tanggung, aku membeli 3 majalah. Aku baca dengan saksama, tentang pemain, klub-klub Indonesia, klub-klub Eropa, dan tentunya juga dengan menyimak berita sepak bola di televisi. Akhirnya pengetahuanku tentang sepak bola sudah lumayan banyak. Sejak saat itu, aku sudah bisa nyambung diajak ngobrol tentang sepak bola. Berkat membaca, aku sudah tidak kudet lagi tentang sepak bola.
Masuk SMA kebiasaanku membaca buku bergambar sedikit demi sedikit berkurang. Aku mulai suka membaca novel. Novel pertama yang aku baca adalah D’bijis karya Adhitya Mulya. Setelah itu aku membaca novel-novel lain yang kebanyakan adalah novel-novel yang bertemakan percintaan. Mungkin karena aku sudah mulai suka dengan lawan jenis, jadi lebih ingin mengetahui apa itu cinta.
Masuk di perguruan tinggi, hari-hariku tidak pernah jauh dari yang namanya membaca. Buku fiksi maupun non fiksi, artikel di koran, majalah, internet, dan lain-lain semua aku baca. Aku suka membaca buku sejarah. Entah mengapa aku suka kalau bicara tentang masa lalu, aku selalu penasaran dengan apa yang terjadi di masa lalu. Sering aku merasa kaget ketika membaca buku sejarah. Contoh, saat aku membaca sejarah Indonesia, ternyata cikal bakal nama Indonesia itu bukan berasal dari orang Indonesia sendiri melainkan dari seorang ahli Geografi dari Inggris. Aku merasa senang ketika menemukan hal-hal yang tidak terduga seperti itu. Masa lalu adalah penyebab adanya masa depan.
Kesukaanku membaca buku sejarah juga menular terhadap kebiasaanku. Ketika sedang ngobrol dengan teman-teman pasti aku selalu menanyakan masa lalu mereka, entah itu tentang kisah asmara ataupun kisah yang lainnya. Setiap orang pasti punya kisah masa lalu yang berbeda-beda dan itu menjadi suatu keunikan untuk bisa aku ketahui.
Aku punya buku yang berjudul Kalilah dan Dimnah, menurut informasi yang tertera di buku itu, Kalilah dan Dimnah adalah karya sastra yang paling tua di dunia. Awalnya aku tidak percaya dengan informasi itu, sehingga aku mencoba untuk mencari informasi sebanyak-banyaknya di internet tentang buku tersebut, karena pada dasarnya aku memang suka mengorek sejarah. Berdasarkan informasi yang aku kumpulkan, ternyata memang benar Kalilah dan Dimnah adalah karya sastra paling tua di dunia. Mungkin di luar sana masih ada karya sastra yang lebih tua dari buku tersebut. Namun, untuk saat ini aku masih yakin bahwa Kalilah dan Dimnah adalah yang paling tua di dunia. Waktu aku beli, buku itu sudah terlihat usang. Aku beli buku itu di pameran buku. Aku sering menerka-nerka siapakah pemilik buku itu sebelumnya. Apakah orangnya memiliki kesukaan yang sama seperti aku yang suka dengan cerita-cerita masa lalu, apakah dia sudah tua atau masih muda atau bahkan telah meninggal. Aku suka berkhayal dan kadang khayalanku terlewat batas.
Ceritaku selanjutnya adalah aku pernah melakukan pendekatan pada cewek dengan menggunakan buku. Aku baru sekali bertemu dengan cewek itu, kemudian aku mencari cara bagaimana agar aku bisa bertemu lagi dengan dia. Akhirnya aku dapat ide, aku bilang ke dia kalau aku dapat tugas dari kampus untuk mencari buku, padahal sebenarnya tugas itu tidak ada. Aku minta tolong ke dia untuk menemaniku ke toko buku dan dia mau. Tahap pertama berhasil, aku berhasil mengajak dia dan artinya aku jalan berdua dengannya. Tahap kedua, sampai di toko buku aku mengajak dia memilih-milih buku. Aku libatkan dia untuk memilih buku, setidaknya untuk memberi komentar buku mana yang menurut dia bagus, tidak perlu mengetahui isinya, minta komentar tentang covernya pun tidak masalah. Artinya, aku sudah memberikan kesan bahwa aku adalah orang yang menyenangkan bisa diajak bertukar pikiran, tidak membiarkan dia seolah-olah hanya untuk mengantarku saja, dan tentunya dengan ditambahi obrolan-obrolan lucu yang dapat membuatnya selalu tersenyum. Tahap ketiga, setelah aku mengajak dia membeli buku, aku bisa mengajak dia makan bareng, mencari tempat nongkrong untuk mengobrol ria, dan sampai pada tahap akhirnya aku mengantar dia pulang dengan selamat. Hasilnya, beberapa minggu setelah kejadian membeli buku itu, aku berhasil jadian dengan dia. Intinya bukan karena aku mengajak dia membeli buku, tapi bagaimana caraku bisa memberikan kesan terbaik untuk wanita yang aku suka, membuat dia merasa nyaman di dekatku. Jadi, membeli buku hanyalah caraku untuk mendekati dia. Agak berbau kebohongan sih, seharusnya di awal aku tidak perlu berbohong soal membeli buku karena ada tugas dari kampus. Akan terasa lebih nyaman tersimpan diingatan kalau aku jujur mengajak dia. Aku menyadari itu dan setelah aku jadian dengan dia, aku menceritakan semuanya dengan jujur dan hebatnya dia tidak marah, malahan kami tertawa bersama-sama.
Seperti itulah beberapa ceritaku tentang buku. Membaca adalah hobi yang menyenangkan. Aku seperti memasuki dunia baru dalam setiap buku yang aku baca. Amanah yang terkandung dalam setiap buku dapat aku pelajari dan aku terapkan dalam kehidupan. Membacalah, maka kau akan merasakan sensasi dunia baru.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar