Aku suka membaca sejak
duduk di bangku kelas 4 SD. Waktu itu buku yang pertama kali aku baca sampai
selesai adalah buku Ensiklopedi tentang hewan, tumbuhan, dan tempat bersejarah
di dunia. Aku meminjam buku itu dari temanku satu kelas. Berkat buku tersebut,
aku bisa menjadi tahu tempat-tempat bersejarah di dunia, aku menjadi tahu hewan
apa saja yang ada di Indonesia, aku menjadi tahu tumbuhan-tumbuhan langka.
Bukunya lumayan tebal. Aku tertarik membaca buku tersebut karena penjelasannya
disertai dengan gambar, bahkan lebih banyak gambarnya ketimbang teorinya.
Mungkin kalau tidak ada gambarnya aku tidak akan mau membaca. Tidak bisa
dipungkiri gambar adalah salah satu sebab aku mau membaca, dan pengetahuan yang
aku dapat dari membaca aku anggap sebagai bonus karena aku suka dengan
gambarnya. Kurang lebih seperti itu apa yang dapat aku tangkap dari pemikiranku
waktu masih kecil. Wajar, karena yang namanya anak-anak pasti suka dengan buku
yang bergambar.
Aku suka membaca juga
berkat orang tua. Dulu orang tuaku berinisiatif untuk berlangganan majalah Bobo
agar anaknya gemar membaca. Dan ternyata berhasil, setiap minggu aku selalu tidak
sabar untuk mendapatkan majalah Bobo itu. Majalah Bobo penuh dengan cerita
dongeng bergambar yang selalu dapat membuatku larut untuk berkhayal, tentunya
khayalan khas anak-anak. Kalau waktu itu orang tuaku tidak jadi berlangganan
majalah Bobo, mungkin aku tidak akan punya hobi membaca.
Masuk SMP kebiasaanku
membaca buku bergambar masih belum hilang. Setiap ada jam kosong atau jam
istirahat tidak jarang aku gunakan untuk membaca di perpustakaan. Aku selalu
menuju rak buku komik. Banyak komik yang sudah aku baca, dari mulai komik
Doraemon, Sinchan, Naruto, Detektif Conan, dan masih banyak yang lain. Ada juga
buku komik yang membuatku terheran-heran, karena waktu itu aku pikir yang
namanya buku komik pasti berisi tentang cerita imajinasi untuk anak-anak.
Pemikiranku itu keliru, ternyata ada juga buku komik yang menceritakan tentang
tokoh-tokoh dunia. Waktu itu aku membaca komik tentang Abraham Lincoln, Thomas
Alfa Eddison, dan Albert Einstein. Komik tersebut sangat bermanfaat, aku menjadi
mengerti siapa mereka dan apa pengaruh mereka terhadap dunia.
Ada pengalaman yang
tidak bisa aku lupakan waktu SMP tentang membaca. Kejadiannya saat kelas IX,
setiap kali jam istirahat tiba aku dan teman-temanku yang laki-laki selalu
ngobrol bersama-sama di depan kelas. Tema yang paling sering diobrolkan adalah
tentang sepak bola, sedangkan aku waktu itu tidak paham sama sekali dengan
sepak bola. Klub sepak bola di Indonesia saja aku tidak paham apalagi klub dari
luar Indonesia. Aku hanya bisa diam ketika teman-temanku ngobrol tentang sepak
bola. Merasa jengkel karena pengetahuanku tentang sepak bola sangat tidak ada,
akhirnya aku membeli majalah sepak bola untuk aku pelajari. Tidak
tanggung-tanggung, aku membeli 3 majalah. Aku baca dengan saksama, tentang
pemain, klub-klub Indonesia, klub-klub Eropa, dan tentunya juga dengan menyimak
berita sepak bola di televisi. Akhirnya pengetahuanku tentang sepak bola sudah
lumayan banyak. Sejak saat itu, aku sudah bisa nyambung diajak ngobrol tentang
sepak bola. Berkat membaca, aku sudah tidak kudet
lagi tentang sepak bola.
Masuk SMA kebiasaanku
membaca buku bergambar sedikit demi sedikit berkurang. Aku mulai suka membaca
novel. Novel pertama yang aku baca adalah D’bijis karya Adhitya Mulya. Setelah
itu aku membaca novel-novel lain yang kebanyakan adalah novel-novel yang
bertemakan percintaan. Mungkin karena aku sudah mulai suka dengan lawan jenis,
jadi lebih ingin mengetahui apa itu cinta.
Masuk di perguruan
tinggi, hari-hariku tidak pernah jauh dari yang namanya membaca. Buku fiksi
maupun non fiksi, artikel di koran, majalah, internet, dan lain-lain semua aku
baca. Aku suka membaca buku sejarah. Entah mengapa aku suka kalau bicara
tentang masa lalu, aku selalu penasaran dengan apa yang terjadi di masa lalu. Sering
aku merasa kaget ketika membaca buku sejarah. Contoh, saat aku membaca sejarah
Indonesia, ternyata cikal bakal nama Indonesia itu bukan berasal dari orang
Indonesia sendiri melainkan dari seorang ahli Geografi dari Inggris. Aku merasa
senang ketika menemukan hal-hal yang tidak terduga seperti itu. Masa lalu
adalah penyebab adanya masa depan.
Kesukaanku membaca buku
sejarah juga menular terhadap kebiasaanku. Ketika sedang ngobrol dengan
teman-teman pasti aku selalu menanyakan masa lalu mereka, entah itu tentang
kisah asmara ataupun kisah yang lainnya. Setiap orang pasti punya kisah masa
lalu yang berbeda-beda dan itu menjadi suatu keunikan untuk bisa aku ketahui.
Aku punya buku yang
berjudul Kalilah dan Dimnah, menurut informasi yang tertera di buku itu,
Kalilah dan Dimnah adalah karya sastra yang paling tua di dunia. Awalnya aku
tidak percaya dengan informasi itu, sehingga aku mencoba untuk mencari
informasi sebanyak-banyaknya di internet tentang buku tersebut, karena pada
dasarnya aku memang suka mengorek sejarah. Berdasarkan informasi yang aku
kumpulkan, ternyata memang benar Kalilah dan Dimnah adalah karya sastra paling
tua di dunia. Mungkin di luar sana masih ada karya sastra yang lebih tua dari
buku tersebut. Namun, untuk saat ini aku masih yakin bahwa Kalilah dan Dimnah
adalah yang paling tua di dunia. Waktu aku beli, buku itu sudah terlihat usang.
Aku beli buku itu di pameran buku. Aku sering menerka-nerka siapakah pemilik
buku itu sebelumnya. Apakah orangnya memiliki kesukaan yang sama seperti aku yang
suka dengan cerita-cerita masa lalu, apakah dia sudah tua atau masih muda atau
bahkan telah meninggal. Aku suka berkhayal dan kadang khayalanku terlewat
batas.
Ceritaku selanjutnya
adalah aku pernah melakukan pendekatan pada cewek dengan menggunakan buku. Aku
baru sekali bertemu dengan cewek itu, kemudian aku mencari cara bagaimana agar
aku bisa bertemu lagi dengan dia. Akhirnya aku dapat ide, aku bilang ke dia
kalau aku dapat tugas dari kampus untuk mencari buku, padahal sebenarnya tugas
itu tidak ada. Aku minta tolong ke dia untuk menemaniku ke toko buku dan dia
mau. Tahap pertama berhasil, aku berhasil mengajak dia dan artinya aku jalan
berdua dengannya. Tahap kedua, sampai di toko buku aku mengajak dia
memilih-milih buku. Aku libatkan dia untuk memilih buku, setidaknya untuk
memberi komentar buku mana yang menurut dia bagus, tidak perlu mengetahui
isinya, minta komentar tentang covernya pun tidak masalah. Artinya, aku sudah
memberikan kesan bahwa aku adalah orang yang menyenangkan bisa diajak bertukar
pikiran, tidak membiarkan dia seolah-olah hanya untuk mengantarku saja, dan
tentunya dengan ditambahi obrolan-obrolan lucu yang dapat membuatnya selalu
tersenyum. Tahap ketiga, setelah aku mengajak dia membeli buku, aku bisa
mengajak dia makan bareng, mencari tempat nongkrong untuk mengobrol ria, dan
sampai pada tahap akhirnya aku mengantar dia pulang dengan selamat. Hasilnya,
beberapa minggu setelah kejadian membeli buku itu, aku berhasil jadian dengan
dia. Intinya bukan karena aku mengajak dia membeli buku, tapi bagaimana caraku
bisa memberikan kesan terbaik untuk wanita yang aku suka, membuat dia merasa
nyaman di dekatku. Jadi, membeli buku hanyalah caraku untuk mendekati dia. Agak
berbau kebohongan sih, seharusnya di awal aku tidak perlu berbohong soal
membeli buku karena ada tugas dari kampus. Akan terasa lebih nyaman tersimpan
diingatan kalau aku jujur mengajak dia. Aku menyadari itu dan setelah aku
jadian dengan dia, aku menceritakan semuanya dengan jujur dan hebatnya dia
tidak marah, malahan kami tertawa bersama-sama.
Seperti itulah beberapa
ceritaku tentang buku. Membaca adalah hobi yang menyenangkan. Aku seperti
memasuki dunia baru dalam setiap buku yang aku baca. Amanah yang terkandung
dalam setiap buku dapat aku pelajari dan aku terapkan dalam kehidupan. Membacalah,
maka kau akan merasakan sensasi dunia baru.