Selasa, 30 Desember 2014

Nglamar Kerja Part 2



Kemarin aku mencoba melamar kerja kembali sebagai Call Center di salah satu perusahaan telekomunikasi di Semarang. Ini kali kedua aku melamar kerja di perusahaan ini. Di percobaan pertama aku gagal karena memang waktu itu aku gak niat. Jelas saja waktu itu aku gagal karena dari penampilan sudah gak sopan sama sekali, peserta yang lain semua rapi sedangkan aku pake celana jeans, rambut gondrong, dan ketika di dalam ruangan cengengesan sendiri gak serius. Pada kesempatan kedua ini aku mecoba menghadiri dengan serius. Aku memakai pakaian rapi, rambut juga sudah rapi, pokoknya penampilanku rapi.

Pukul 13:00 aku sudah berada di perusahaan. Aku naik ke lantai 5 dan ternyata di sana sudah ada 4 orang yang juga akan mengikuti tes perekrutan. Hingga pada akhirnya semua yang hadir ada 10 orang, 5 cowok dan 5 cewek. Masih sama, pertama-tama kami diabsen dulu. Tidak ada yang berbeda dengan rangkaian tes yang dilakukan, cuma ada 1 tes yang dihilangkan yaitu tes mengetik. Setelah diabsen, kami disodori lembar kesepakatan kontrak yang sudah pernah aku baca, tidak ada yang berubah dengan aturan tersebut. Ada satu orang yang mengundurkan diri karena tidak setuju dengan kesepakatan kontrak tersebut, ia pun langsung keluar pulang. Alhasil tinggal 9 orang yang bertahan. Setelah menandatangani kesepakatan itu kami melakukan tes tertulis. Soal tes tulisnya masih sama dengan apa yang aku kerjakan waktu pertama kali aku datang ke sini. Aku kerjakan dengan lancar-lancar saja.

Setelah itu dilanjutkan dengan tes wawancara. Sebelum dilaksanakan tes wawancara kami dipanggil satu per satu untuk dicek surat keterangan sehatnya. Ketika giliran aku yang dipanggil, mbak HRDnya bilang, “Kamu sudah pernah datang ke sini ya?”. Oh my god, memang sih HRDnya tidak berbeda dengan HRD yang pertama kali menangani perekrutan di sini tapi aku pikir dia pasti lupa, eh ternyata dia masih ingat. Padahal itu sudah lumayan lama banget 1 bulanan yang lalu. Dalam benakku, dia bisa ingat denganku karena namaku, wajahku, tingkah lakuku atau apa ya? Karena dia cek di data komputernya saja tidak menemukan namaku.

Tes wawancara dimulai, satu per satu dipanggil. Entah ini disengaja atau tidak, aku dipanggil pada urutan ke-8. Meskipun pesertanya cuma 9 tapi aku nunggu lama buuuaaangeeeeeet. Satu kali wawancara bisa 20 menitan nunggu. Apa gara-gara aku udah pernah datang ke sini jadi aku dikasih urutan belakang ya? Padahal aku absen paling pertama dan tes tertulis aku juga bukan yang terakhir, itu sangat menjengkelkan. Dan orang yang di urutan ke-9 itu jelas dikasih paling akhir karena dia telat datangnya. Alhasil tinggal 2 orang saja di ruangan karena setelah diwawancara diperbolehkan langsung pulang. Berdua di dalam ruangan kalau sama cewek nggak masalah, hla ini sama cowok bro hadeeeeew. Tes yang dimulai pukul 13:30 selesai pukul 16:30, 3 jam nunggu aarrgghhh.

Giliranku diwawancara, dengan sisa-sisa kesadaran aku mantap menghadap. Aku hampiri mbak HRD itu dengan senyum yang tulus. Mbak HRDnya mengawali wawancara dengan, “Sepertinya saya pernah melihat kamu?”. Lagi-lagi dia bertanya seperti itu. Akhirnya aku jelasin semuanya bahwa benar aku memang sudah pernah datang ke sini, tapi lagi-lagi dia cek di komputernya tidak ada dataku. Aku juga tidak tahu kenapa bisa tidak ada dataku, padahal aku memang benar-benar pernah datang ke sini. Mungkin dataku udah dibakar sama HRDnya kali yak, karena saking nggak seriusnya waktu itu.

Lama mencari dataku yang dari tadi gak nemu-nemu akhirnya dia menyerah (lupakan dataku). Wawancara dilanjutkan, pertama-tama aku disuruh memperkenalkan diri tapi menggunakan bahasa inggris. Aku udah menyadari ini dan aku juga udah belajar sedikit. Selesai memperkenalkan diri, suasana menjadi hening sejenak. Dan mbak Evi bilang seperti ini, “Setelah dulu pernah datang ke sini, sekarang datang ke sini lagi persiapanmu apa saja?”. Aku jawab dengan jujur, bla bla bla. Mbak Evi bilang lagi, “Kalau kamu mau jadi Call Center harus begini... begini... begini...” Awalnya aku bingung kenapa malah diberi nasihat, peserta sebelumnya saja sepertinya tidak diberi nasihat, langsung pulang begitu aja. Akhirnya aku nyadar ternyata aku dinyatakan tidak lolos, meskipun aku menyadari sendiri secara tidak langsung. Katanya logat bahasa kedaerahanku masih kelihatan dan kemampuan bahasa inggrisku kurang. Di situ aku diberi banyak nasihat oleh mbak Evi dengan penuh senyum dan bahasa yang enak didengar. Aku lihat mbak Evi itu orang yang baik tapi tegas dengan tugas yang diembannya. Kecewa sih nggak, tapi lebih ke kasihan. Aku merasa kasihan banget dengan diriku sendiri, baru kali ini aku benar-benar merasa tidak bisa apa-apa mesagke banget. Orang lain bisa kenapa aku nggak bisa. Namun, ini bukan akhir dari segalanya. Dengan kejadian ini aku bisa mengukur kemampuanku dan kedepan aku bisa secepatnya melakukan pembenahan. Aku bersalaman dengan mbak Evi dan beranjak pulang.

Berjalan keluar, eh… hujan. Langkah gontai setelah merasakan kekecewaan, diiringi rintikan hujan yang mulai membasahi tubuh, berjalan dengan gaya sok cool. Udah nunggu antrian wawancara lama banget, nggak diterima, kujanan lagi... ya sudahlah. Inilah hidup, tak selamanya sejalan dengan apa yang kita inginkan. Hidup itu perjuangan, jangan bangga dengan apa yang kita punya kalau bukan berasal dari kerja keras kita sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar