Kemarin aku mencoba melamar kerja kembali sebagai
Call Center di salah satu perusahaan telekomunikasi di Semarang. Ini kali kedua
aku melamar kerja di perusahaan ini. Di percobaan pertama aku gagal karena
memang waktu itu aku gak niat. Jelas saja waktu itu aku gagal karena dari
penampilan sudah gak sopan sama sekali, peserta yang lain semua rapi sedangkan aku
pake celana jeans, rambut gondrong, dan ketika di dalam ruangan cengengesan
sendiri gak serius. Pada
kesempatan kedua ini aku mecoba menghadiri dengan serius. Aku memakai pakaian rapi, rambut
juga sudah rapi, pokoknya penampilanku rapi.
Pukul 13:00 aku sudah berada di perusahaan. Aku naik
ke lantai 5 dan ternyata di sana sudah ada 4 orang yang juga akan mengikuti tes
perekrutan. Hingga pada akhirnya semua yang hadir ada 10 orang, 5 cowok dan 5
cewek. Masih sama, pertama-tama kami diabsen dulu. Tidak ada yang berbeda
dengan rangkaian tes yang dilakukan, cuma ada 1 tes yang dihilangkan yaitu tes mengetik.
Setelah diabsen, kami disodori lembar kesepakatan kontrak yang sudah pernah aku
baca, tidak ada yang berubah dengan aturan tersebut. Ada satu orang yang
mengundurkan diri karena tidak setuju
dengan kesepakatan kontrak tersebut, ia pun langsung keluar pulang. Alhasil
tinggal 9 orang yang bertahan. Setelah menandatangani kesepakatan itu kami
melakukan tes tertulis. Soal tes tulisnya masih sama dengan apa yang aku
kerjakan waktu pertama kali aku datang ke sini. Aku kerjakan dengan
lancar-lancar saja.
Setelah itu dilanjutkan
dengan tes wawancara. Sebelum dilaksanakan tes wawancara kami dipanggil satu
per satu untuk dicek surat keterangan sehatnya.
Ketika giliran aku yang dipanggil, mbak HRDnya bilang, “Kamu sudah pernah
datang ke sini ya?”. Oh my god, memang sih HRDnya tidak berbeda dengan HRD yang
pertama kali menangani perekrutan di sini tapi aku pikir dia pasti lupa, eh ternyata
dia masih ingat. Padahal itu sudah lumayan lama banget 1 bulanan yang lalu.
Dalam benakku,
dia bisa ingat denganku karena namaku, wajahku, tingkah lakuku atau apa ya?
Karena dia cek di data komputernya saja
tidak
menemukan namaku.
Tes wawancara dimulai, satu per satu dipanggil. Entah
ini disengaja atau tidak, aku dipanggil pada urutan ke-8. Meskipun pesertanya
cuma 9 tapi aku nunggu lama buuuaaangeeeeeet. Satu kali wawancara bisa 20
menitan nunggu. Apa gara-gara aku udah pernah datang ke sini jadi aku dikasih
urutan belakang ya? Padahal aku absen paling pertama dan tes tertulis aku juga
bukan yang terakhir, itu sangat menjengkelkan. Dan orang yang di urutan ke-9 itu jelas dikasih paling
akhir karena dia telat datangnya. Alhasil tinggal 2 orang saja di ruangan
karena setelah diwawancara diperbolehkan langsung pulang. Berdua di dalam
ruangan kalau sama cewek nggak masalah, hla ini sama cowok bro hadeeeeew. Tes
yang dimulai pukul 13:30 selesai pukul 16:30, 3 jam nunggu aarrgghhh.
Giliranku diwawancara, dengan sisa-sisa kesadaran
aku mantap menghadap. Aku hampiri mbak HRD itu dengan senyum yang tulus. Mbak
HRDnya mengawali wawancara dengan, “Sepertinya saya pernah melihat kamu?”.
Lagi-lagi dia bertanya seperti itu. Akhirnya aku jelasin semuanya bahwa benar aku memang
sudah pernah datang ke sini, tapi lagi-lagi dia cek di komputernya tidak ada
dataku. Aku juga tidak tahu kenapa bisa tidak ada dataku,
padahal aku memang benar-benar pernah datang ke sini. Mungkin dataku udah
dibakar sama HRDnya kali yak, karena saking nggak seriusnya waktu itu.
Lama mencari dataku yang dari tadi gak nemu-nemu
akhirnya dia menyerah (lupakan dataku). Wawancara dilanjutkan, pertama-tama
aku disuruh memperkenalkan diri
tapi menggunakan bahasa
inggris. Aku udah menyadari ini dan aku juga udah belajar
sedikit. Selesai memperkenalkan diri, suasana menjadi hening sejenak. Dan
mbak Evi bilang seperti ini, “Setelah
dulu pernah datang ke sini, sekarang datang ke sini lagi persiapanmu apa
saja?”. Aku jawab dengan jujur, bla bla bla. Mbak Evi bilang lagi, “Kalau
kamu mau jadi Call Center
harus begini... begini... begini...”
Awalnya aku bingung kenapa malah diberi nasihat, peserta sebelumnya saja
sepertinya tidak diberi nasihat, langsung pulang begitu aja. Akhirnya aku
nyadar ternyata aku dinyatakan tidak lolos, meskipun
aku menyadari sendiri secara tidak langsung.
Katanya logat bahasa kedaerahanku masih kelihatan dan kemampuan bahasa inggrisku kurang. Di situ aku diberi banyak nasihat oleh mbak Evi dengan penuh
senyum dan bahasa yang enak didengar. Aku lihat mbak
Evi itu orang yang baik tapi tegas dengan tugas yang diembannya. Kecewa sih
nggak, tapi lebih ke kasihan. Aku merasa kasihan banget dengan diriku sendiri,
baru kali ini aku benar-benar merasa tidak bisa apa-apa mesagke banget. Orang lain bisa kenapa aku nggak bisa. Namun,
ini bukan akhir dari segalanya. Dengan kejadian ini aku bisa mengukur
kemampuanku dan kedepan aku bisa secepatnya melakukan pembenahan. Aku bersalaman
dengan mbak Evi dan beranjak pulang.
Berjalan keluar,
eh… hujan. Langkah
gontai setelah merasakan kekecewaan,
diiringi rintikan hujan yang
mulai membasahi tubuh, berjalan
dengan gaya sok cool. Udah nunggu antrian wawancara lama banget, nggak diterima,
kujanan lagi... ya sudahlah. Inilah hidup, tak selamanya sejalan dengan apa
yang kita inginkan. Hidup itu perjuangan, jangan bangga dengan apa yang kita
punya kalau bukan berasal dari
kerja keras kita sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar